Rabu, 19 Oktober 2011

Ekonomi Jambi Tumbuh 1,7 Persen



jambiekspres.co.id - Pemerintah patut berbangga. Pasalnya, ekonomi Jambi pada triwulan kedua tahun 2011, tumbuh sebesar 1,7 persen. Peningkatan ini terjadi pada semua sektor perekonomian dengan pertumbuhan terjadi pada sektor bangunan. Hal ini disampaikan oleh Kepala BPS Provinsi Jambi, Drs Akhmad Djaelani MSi kepada wartawan kemarin.
"Sumber pertumbuhan ekonomi pada triwulan kedua tahun 2011 ditopang oleh sektor pertanian dan sektor perdagangan masing-masing sebesar 0,4 persen," terangnya.
Dirinya mengatakan, dari sisi penggunaan, konsumsi rumah tangga pada triwulan II tahun 2011 masih merupakan penyumbang terbesar dalam pengunaan PDRB Provinsi Jambi yaitu sebesar 58,8 persen. Namun lebih rendah dari triwulan I tahun 2011 yang mencapai 59,8 persen.
"Kinerja perekonomian provinsi Jambi diukur dari PDRB atas dasar harga berlaku pada triwulan II tahun 2011. Ini mencapai Rp 15.972,42 miliar. Sedangkan PDRB atas dasar harga konstan tahun 2000 pada triwulan II tahun 2011 adalah Rp 4.636,74 miliar," sebutnya.
Lebih lanjut disebutkannya, sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan pada triwulan II tahun 2011 mengalami kenaikan sebesar 1,3 persen. Ini merupakan sektor dengan laju pertumbuhan terendah dibanding sektor lainnya. Kenaikan ini relatif lebih rendah bila dibandingkan dengan triwulan lalu yang tumbuh sebesar 1,5 persen.
"Melambatnya laju pertumbuhan sektor ini disebabkan oleh perlambatan laju sebagian besar subsektor yang ada di dalam sektor pertanian. Seperti subsektor tanaman bahan makanan yang hanya tumbuh 1,3 persen. Subsektor kehutanan bahkan mengalami pertumbuhan minus 0,5 persen. Subsektor yang mengalami peningkatan hanya subsektor peternakan dan subsektor perikanan," sebutnya.
Lebih lanjut dikatakannya, di sektor pertambangan dan penggalian pada triwulan II ini mengalami pertumbuhan yang relatif tinggi. Ini jika dibandingkan dengan triwulan I yaitu tumbuh sebesar 1,9 persen. Laju pertumbuhan sektor pertambangan dan penggalian pada triwulan ini terutama didukung oleh subsektor pertambangan tanpa migas yang tumbuh sebesar 2,7 persen.
Pertumbuhan yang cukup signifikan pada triwulan II tahun 2011 terjadi pada sektor bangunan yaitu sebesar 2,5 persen. Sektor lain dengan laju yang cukup tinggi adalah sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 2,1 persen.
Sektor-sektor lain tumbuh di atas 1,5 persen kecuali sektor pengangkutan dan komunikasi dan sektor jasa-jasa yang masing-masing hanya tumbuh sebesar 1,4 persen.
"Tingginya laju sektor bangunan ini lebih disebabkan oleh mulai meningkatkan kinerja konstruksi sebagian besar proyek fisik pemerintah yang diikuti oleh proyek swasta dibidang property," katanya.
Faktor lainnya yang juga pemicu laju pertumbuhan cukup tinggi, yakni program samisake yang sudah dimulai dengan pengerjaan bedah rumah. "Sedangkan pertumbuhan sektor perdagangan, hotel darn restoran lebih didukung oleh pertumbuhan yang signifikan pada subsektor hotel yang mencapai 2,4 persen. Dimana triwulan sebelumnya mengalami pertumbuhan negatif," ujarnya.
Hal ini, lanjutnya, disebabkan meningkatnya hunian hotel seiring masa liburan sekolah diakhir triwulan. Kondisi yang sama juga terlihat pada subsektor angkutan udara yang mengalami pertumbuhan 2,1 persen setelah triwulan sebelumnya tumbuh negatif.
"Kinerja perekonomian provinsi Jambi pada triwulan ini, didorong oleh peningkatan kinerja sektor industri secara luas yang menjadi mesin pertumbuhan dan mendorong peningkatan kinerja sektor jasa. Pada sisi lain, perekonomian Jambi juga mempunyai ketergantungan yang relatif tinggi terhadap sektor pertambangan dan penggalian sehingga membuat struktur perenomian provinsi tidak banyak mengalami pergesar dari sektor primer," tandasnya.

Cina dan Prancis Pangkas Pertumbuhan Ekonomi

 Pembangunan gedung bertingkat di Jakarta, Minggu (19/4). Menurut survei perusahaan jasa keuangan dunia ING bahwa pada triwulan I 2009, pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi lebih dari empat persen. TEMPO/Imam Sukamto

TEMPO Interaktif,PARIS: -- Cina dan Prancis mulai menurunkan target pertumbuhan ekonomi akibat krisis yang tak kunjung usai di Eropa dan Amerika Serikat. Pemerintah Cina menyatakan pertumbuhan ekonomi melambat pada kuartal ketiga tahun ini, terendah dalam dua tahun terakhir. 

Pertumbuhan ekonomi Cina pada kuartal ketiga diperkirakan hanya 9,1 persen, lebih rendah daripada dua kuartal sebelumnya. Pada kuartal kedua ekonomi tumbuh 9,5 persen, dan 9,7 persen pada kuartal pertama.

Cina merupakan salah satu negara yang mulai terkena imbas krisis global. Cina mulai melakukan penghematan dengan memperketat kredit dan menaikkan suku bunga seiring dengan turunnya permintaan pasar Amerika dan Eropa. "Pertumbuhan ekonomi Cina mengejutkan pasar," kata Stephen Green, ekonom Standard Chartered Bank di Hong Kong.

Ekonomi Cina sejatinya masih perkasa. Sepanjang kuartal ketiga lalu, penjualan retail naik 17,7 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Angka itu lebih tinggi dibanding perkiraan semula 17 persen. Output industri juga naik 13,8 persen, lebih tinggi dibanding target sebelumnya 13,3 persen.

Tak hanya Cina, Prancis juga sanksi bisa mencapai target pertumbuhan ekonomi 1,5 persen pada 2012. Prancis adalah negara terbesar kedua di Eropa.

Menteri Keuangan Prancis Francois Baroin mengingatkan target pertumbuhan ekonomi 1,75 persen tahun depan terlalu optimistis. Ia memperkirakan ekonomi hanya tumbuh 1,5 persen. "Angka itu mungkin terlalu tinggi," katanya seperti dikutip dari kantor berita Associated Press.

Melambatnya ekonomi global diperkirakan membuat pertumbuhan ekonomi Prancis tersendat. Namun Baroin menegaskan, pemerintah akan berusaha sekuat mungkin menghindari Prancis jatuh dalam jurang resesi yang kian dalam.

Lembaga pemeringkat internasional Moody's mengancam akan menurunkan peringkat utang Prancis yang saat ini bertengger di 'AAA'. Peringatan ini diumumkan menjelang pertemuan para pemimpin negara-negara Eropa di Brussel, Ahad mendatang. Moody's mengatakan pemerintah Prancis menghadapi berbagai tantangan beberapa bulan mendatang.

Baroin menyatakan sekuat tenaga menjaga peringkat utang AAA. "Kami masih memiliki ruang untuk bergerak," katanya.

Dampak krisis global sudah di depan mata. Pekan lalu Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan kemungkinan krisis utang di Eropa segera meluas ke kawasan Asia. Gejolak utang itu bisa memicu penjualan aset besar-besaran dan memaksa bank Eropa memangkas pinjaman, sehingga pasar mata uang Asia terganggu.

IMF menyatakan pertumbuhan ekonomi Asia melambat sejak kuartal kedua lalu. Estimasi pertumbuhan 6,8 persen yang diumumkan April lalu bakal terpangkas menjadi 6,3 persen. Selain itu, tekanan inflasi masih akan terus meningkat.

Sejak 2009, investor negara maju telah mendominasi pasar Asia. Terguncangnya kondisi para pemodal besar ini akan memicu hilangnya kepercayaan di pasar obligasi, mata uang, ataupun bursa saham Asia. Bank asing pun dikhawatirkan akan memotong kredit ke Asia setelah negara mereka dilanda krisis.

Menkeu: Ekonomi Dunia Hanya Akan Tumbuh 1%







JAKARTA - Krisis global yang terjadi sekarang ini bisa semakin memburuk. Bahkan, jika kondisi ini terus berlanjut pertumbuhan perekonomian dunia diprediksi hanya akan mencapai satu persen saja.
Hal ini disampaikan Menteri Keuangan Agus Martowardojo dalam Rapat Koordinasi Penyelesaian RUU APBN 2012, di Gedung Dhanapala, Kemenkeu, Jakarta, Senin (17/10/2011).
"Kondisi sekarang dibanding tiga minggu yang lalu lebih buruk. Yang paling kena dampaknya adalah ekonomi negara maju yang hanya bisa tumbuh 1,5 persen, kalau negara berkembang hanya enam persen. Tapi kalau ini terus memburuk, perekonomian dunia hanya akan tumbuh satu persen," ungkapnya.
Lebih lanjut dia mengatakan ada lima peringatan utama dalam krisis global yang harus diwaspadai sekarang ini, di antaranya adalah peningkatan risiko di Eropa yang semakin buruk. "Intensifikasi risiko di Eropa, akan sangat menjadi-jadi. Karena pengelolaan fiskal dan perbankan dan likuiditas serta politiknya mereka masih membutuhkan kesepakatan negara Eropa," jelas Agus.
Selain itu, masalah perlambatan pertumbuhan perekonomian di Amerika Serikat (AS) juga harus menjadi perhatian untuk diwaspadai, karena Negara berjulukan Paman Sam itu belum menemukan jalan keluar masalahnya. "Kemudian di Amerika, perlambatan ekonomi Amerika, ada faktor fiskal, masalah perumahan yang belum selesai," imbuhnya.
Kemudian adanya shock global sovereign debt yang membuat harga surat utang negara (SUN) atau Surat berharga Negara (SBN) negara negara akan berpengaruh dan ini juga akan sangat berpengaruh ke Indonesia.
Serta adanya overheating perekonomian di negara berkembang dan risiko konflik di Timur Tengah yang semakin memburuk. "Risiko di timur tengah, sesuatu yang lebih buruk. Ini note kita untuk ke depan," pungkasnya.